Saya sungguh tidak pernah menyangka kalau saya akan berdiri di depan para hamba-hamba Tuhan untuk mengajar mereka. Ini merupakan anugerah Tuhan dalam hidup saya. Tuhan mempercayakan hal ini kepada saya. Jujur saya ini tidak bisa apa-apa, tidak memiliki kemampuan tinggi dan yang bicaranya pun pas-pas an kaya ginii gitoe loeh^^
Saya mendapat kesempatan untuk mentraining mereka selama hampir 11 hari. Mereka-mereka ini adalah Bapak gembala sidang, staf gereja, pengerja full time, dan dari mereka kebanyakan adalah lulusan sekolah theologia man! Saya berpikir saya ini siapa, bukan siapa-siapa! Tidak pernah belajar mengenai theologia, tidak pelayanan di gereja, wes saya iki hanya jemaat biasa toh, tapi saya diangkat oleh Tuhan sampai level seperti ini dan saya percaya bahwa semua adalah anugerah Tuhan. Saya bersyukur sekali dengan kepercayaan yang diberikan. Saya menggunakan kesempatan ini dengan melayani mereka sepenuh hati, saya mengasihi dan menghormati Bapak-Bapak serta Ibu-Ibu yang saya training. Saya pun tidak merasa paling benar, paling pintar, paling tahu segalanya, tapi disini saya mau dengan segala kerendahan hati membagikan pengalaman apa yang sudah saya alami kepada mereka semua.
Ya inilah cerita singkat yang saya alami. Dalam Amsal 16:18 “Kecongkakan mendahului kehancuran dan tinggi hati mendahului kejatuhan”. Ketika kita tinggi hati maka kita akan direndahkan tetapi ketika kita merendahkan diri maka kita akan ditinggikan bahkan dipercayai untuk melakukan pekerjaan-Nya. Amin ya?
Pertanyaannya adalah apakah kita semua mau belajar untuk rendah hati? Tuhan senang dengan orang-orang yang rendah hati. Dia tidak pernah melihat status kita, seberapa besar penghasilan yang sudah kita dapatkan, seberapa banyaknya mobil kita dan sebagainya, itu tidak ada artinya bila kita tinggi hati. Jadi mari kita merenungkannya dan melakukannya.
Tuhan memberkati!
Aihua^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar